Dalam historiografi Islam Nusantara, Aceh dikenal sebagai pintu gerbang awal Islamisasi sekaligus dikenal sebagai intelektual Islam di Asia Tenggara. Namun, pembacaan terhadap Aceh, pada umumnya sering berhenti pada wilayah Banda Aceh atau Kesultanan Aceh Darussalam, sementara wilayah seperti Aceh Singkil justru jarang mendapat perhatian proporsional. Padahal, Singkil seyogyanya bukanlah wilayah perifer, melainkan salah satu simpul penting dalam jaringan intelektual Islam global abad ke-17.
Aceh Singkil memiliki arti strategis dalam sejarah pemikiran Islam Nusantara karena dari wilayah inilah lahir, seorang ulama besar yang menjadi penghubung antara tradisi keilmuan lokal Aceh dan pusat-pusat intelektual Islam di Timur Tengah, Syekh Abdurrauf al-Singkili (Syiah Kuala). Melalui perjalanan intelektual, relasi guru-murid, serta produksi karya keilmuan, Singkil terhubung langsung dengan Haramain dan Yaman—dua pusat utama keilmuan Islam dunia pada masa itu.
Berkaca pada abad ke-16, Aceh Darussalam berkembang sebagai pusat perdagangan, politik, dan pendidikan Islam. Posisi geografisnya yang strategis di jalur Samudra Hindia menjadikan Aceh ruang pertemuan berbagai tradisi intelektual Islam—Arab, Persia, India, dan Afrika Timur. Dalam konteks ini, Islam Aceh sejak awal bersifat kosmopolitan dan terbuka terhadap arus pemikiran global.
Aceh Singkil berada dalam orbit penting jaringan tersebut. Secara historis, wilayah Singkil memiliki keterkaitan erat dengan kawasan Barus (Fansur), wilayah yang sejak masa awal Islam dikenal sebagai pusat perdagangan dan intelektual. Mobilitas ulama, pedagang, dan pelajar menjadikan Singkil sebagai ruang perlintasan gagasan keagamaan dan keilmuan.
Penting dicatat bahwa dalam tradisi Islam klasik, pusat keilmuan tidak selalu identik dengan pusat kekuasaan politik. Legitimasi intelektual seorang ulama justru ditentukan oleh sanad keilmuan dan keterhubungannya dengan jaringan ulama lintas wilayah. Dalam kerangka ini, Aceh Singkil menunjukkan kapasitasnya sebagai produsen ulama dengan otoritas ilmiah yang diakui secara luas.
Tradisi pendidikan Islam di Singkil berkembang melalui pengajian, dayah, dan relasi personal antara guru dan murid. Model pendidikan ini menekankan penguasaan ilmu-ilmu inti Islam—fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf—serta kesiapan intelektual untuk melakukan rihla ilmiah ke pusat-pusat keilmuan dunia Islam. Dengan demikian, Singkil tidak berdiri sebagai wilayah pinggiran, melainkan sebagai bagian integral dari jaringan Islam global.
Genealogi Intelektual Aceh Singkil dan Jaringan Timur Tengah
Puncak ekspresi genealogi intelektual Islam Aceh Singkil tercermin dalam sosok Syekh Abdurrauf al-Singkili (1615–1693). Ia merupakan figur kunci yang mengkristalkan hubungan antara tradisi keilmuan lokal Aceh dan jaringan ulama Timur Tengah.
Abdurrauf menempuh perjalanan intelektual panjang dengan belajar di berbagai pusat keilmuan Islam, terutama Zabid (Yaman), Makkah, dan Madinah. Di sana, ia berguru kepada sejumlah ulama terkemuka dan menguasai berbagai disiplin ilmu Islam. Pengalaman intelektual ini membentuk orientasi pemikirannya yang bercorak Sunni ortodoks bermazhab Syafi‘i, dengan fondasi teologis Asy‘ariyah dan tasawuf yang terkendali.
Sekembalinya ke Aceh, Abdurrauf diangkat sebagai mufti Kesultanan Aceh. Dalam posisi ini, ia memainkan peran strategis sebagai otoritas keagamaan sekaligus pembaharu intelektual. Salah satu kontribusi terpentingnya adalah penyusunan Tarjuman al-Mustafid, tafsir Al-Qur’an berbahasa Melayu yang menjadi tonggak penting dalam sejarah intelektual Islam Nusantara. Melalui karya ini, Abdurrauf mentransmisikan tradisi tafsir Timur Tengah ke dalam bahasa dan konteks lokal, tanpa kehilangan kedalaman metodologisnya.
Dalam bidang tasawuf, Abdurrauf dikenal sebagai figur penengah dalam polemik besar Aceh abad ke-17 antara paham wujudiyah dan ortodoksi Sunni. Berbeda dengan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani yang mengembangkan metafisika wahdat al-wujud secara spekulatif, Abdurrauf menekankan tasawuf yang selaras dengan syariat. Sikap ini mencerminkan pengaruh kuat jaringan ulama Haramain yang menekankan keseimbangan antara spiritualitas dan normativitas hukum Islam.
Dengan demikian, Abdurrauf tidak hanya berfungsi sebagai murid dari tradisi Timur Tengah, tetapi juga sebagai arsitek sintesis intelektual yang membentuk karakter Islam Aceh—dan secara lebih luas Islam Nusantara—yang moderat, berakar, dan kosmopolitan.
Selain itu, genealogi intelektual Islam Aceh Singkil tidak dapat dipahami tanpa menempatkannya dalam konteks jaringan ulama Timur Tengah, khususnya Haramain, Yaman. Pada abad ke-17, kawasan ini merupakan pusat gravitasi keilmuan Islam dunia, tempat berkumpulnya ulama dari berbagai wilayah, termasuk Nusantara.
Ulama Nusantara di Haramain dikenal sebagai bagian dari komunitas ashab al-Jawiyin, sebuah jaringan pelajar dan ulama Melayu-Nusantara yang aktif dalam proses belajar, mengajar, dan transmisi ilmu. Melalui komunitas inilah ulama Aceh—termasuk dari Singkil—membangun relasi intelektual yang berkelanjutan dengan dunia Islam global.
Jaringan ini bersifat dua arah. Di satu sisi, ulama Aceh memperoleh legitimasi ilmiah dan metodologis dari Timur Tengah. Di sisi lain, mereka membawa pengalaman sosial dan kultural Nusantara ke dalam diskursus Islam global. Aceh Singkil, melalui figur seperti Abdurrauf, menjadi node penting dalam sirkulasi gagasan tersebut.
Warisan jaringan ini terlihat jelas dalam karakter Islam Aceh hingga hari ini— kuat dalam tradisi Sunni, kaya dalam tasawuf, dan terbuka terhadap dunia luar. Genealogi intelektual Singkil menunjukkan bahwa Islam Nusantara bukanlah Islam pinggiran, melainkan bagian sah dari peradaban Islam dunia.
Sehingga genealogi intelektual Islam Aceh Singkil memperlihatkan bagaimana sebuah wilayah yang sering dipandang periferal justru memainkan peran sentral dalam jaringan keilmuan Islam global. Melalui tradisi pendidikan lokal, mobilitas ulama, dan jaringan Timur Tengah, Aceh Singkil melahirkan figur-figur intelektual yang berpengaruh luas, terutama Syekh Abdurrauf al-Singkili.
Memahami genealogi ini adalah kepentingan sejarah sekaligus membaca ulang identitas Islam Indonesia sebagai Islam yang berakar kuat, kosmopolitan, dan memiliki sanad intelektual yang sahih. Dalam peta besar sejarah pemikiran Islam, Aceh Singkil layak ditempatkan sebagai salah satu simpul penting yang menghubungkan Nusantara dan Timur Tengah dalam satu jaringan peradaban.
Penulis: Aji Cahyono, Lulusan Master of Arts Bidang Kajian Timur Tengah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Founder Indonesian Coexistence