Pada tahun 1950 Tgk. Abdul Majid (Anggota DPRD Aceh Selatan Tahun 1950 dari PERTI) Ayah kandung Ummi Hj. Khadijah (Istri Abuya Bahauddin Tawar) dan Ayah kandung Drs. H. Mu’adz Vohri (Wakil Bupati Aceh Singkil 1999 sd 2004) saat itu menggagas berdirinya Lembaga Pendidikan Islam di desanya, Sibungke Kecamatan Simpang Kiri Aceh Selatan kala itu. Beliau berangkat ke Labuhan Haji Aceh Selatan tepatnya ke Ponpes Darussalam asuhan Abuya Muhammad Wali Al Khalidi As Syafi’i untuk mendirikan Lembaga Pendidikan sekaligus meminta Guru Pengasuh lembaga pendidikan dimaksud. Pada tahun itu juga Abuya Syekh Muhammad Wali menunjuk Abuya Tgk. Muhammad Chalil (alumnus Ponpes Darussalam yang telah lulus tingkat Aliyah pada tahun 1949) sebagai pendiri dan pengasuh Lembaga Pendidikan yang akan didirikan di Sibungke yang pada akhirnya bernama Pesantren Raudhatul Muttaqin berapiliasi dengan PERTI. Semanjak tahun 1950 sampai dengan 1968 Ponpes Raudhatul Muttaqin diasuh dan dipimpin oleh beliau yaitu, Abuya Tgk. Muhammad Chalil. ( Beliau adalah Abang kandung Abuya Bahauddin Tawar Pendiri dan Pengasuh Ponpes Darul Muta’allimin Tanah Merah pada tahun 1962 dan beliau biasa dipanggil dengan Guru Sibungke). Pada tahun yang sama yakni 1968 setelah ada beberapa alumni Darussalam yang berasal dari Sibungke dan sekitarnya maka Abuya Chalil berhijrah ke Singkil tepatnya di Teluk Ambun untuk mendirikan Lembaga Pendidikan yang baru. Kemudian Ponpes Raudhatul Muttaqin dilanjutkan dari Tahun 1968 oleh Tgk. Abdul Kadir Kombih putra asli Sibungke yang juga Alumni Ponpes Darussalam Labuhan lebih kurang di bawah asuhuan beliau dua tahun 1968-1969 setelah itu dilanjutkan Tgk. Djamuluddin juga Alumnus Labuhan Haji memimpin tahun 1970 – 1971, tahun berikutnya Tgk. Ya’kub dan Tgk. Ja’far dari tahun 1972-1973. Dilanjutkan oleh Tgk. Abdul Wahid yang berasal dari Desa Singgersing juga alumnus Labuhan Haji, kemudian dilanjutkan oleh Tgk. Najarudin (Nonggor) asal Kampong Geruguh alumnus Labuhan Haji dari tahun 1974-1975. Setelah itu dilanjutkan oleh Tgk. Alimuddin yang berasal dari desa Geruguh dan menikah dengan salah seorang putri Sibungke yang bernama Jabai, akhirnya beliau menetap di Sibungke dengan dikarunia 10 orang putra putri. Tgk. Alimuddin ini juga merupakan alumnus Labuhan Haji di bawah asuhan Syekh Muda Waly Al-Khalidi beliau menyumbangkan tenaga, pikiran dan ilmunya kepada masyarakat setempat dan sekitarnya di bawah asuhan beliau pesantren ini diasuh lebih kurang 5 tahun 1975-1980. Dan pada akhirnya di Tahun 80an sampai 90an beliau dipercayakan oleh masyarakat menjadi Kepala / Pengurus desa Sibungke di masa kepemimpinan beliau Pesantren Raudhatul Muttaqin dialihkan Dari Alumnus Darussalam Labuhan Haji ke Alumnus Darul Muta’allimin Tanah Merah. Pada tahun 1980 Pondok Pesantern Raudhatul Muttaqin selain tempat belajar Agama juga dibuka tempat Suluk atau Khalwat oleh Syekh Abuya Bahauddin Tawar adik kandung dari Syekh Muhammad Chalil Tawar pendiri pertama dan sekaligus menempatkan menantu pertama Beliau Tgk. H. Qasman Yusuf Chaniago untuk memimpin Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqin selama 16 tahun dari tahun 1980 sampai dengan 1996. Di bawah asuhan beliau (yang juga masyhur dengan panggilan Guru Sibungke) banyak masyarakat yang cukup handal di bidang ilmu agama, sosial, budaya dan mencetak generasi yang ber IMTAQ dan ber IPTEK. Di bawah asuhan Beliau banyak hal melintang yang menghambat majunya pendidikan, namun berkat keyakinan belaiu bahwa Allah akan menolong hambaNya yang berserah diri. Dengan modal sabar inilah akhirnya tak terhitung alumnusnya yang berkifrah di msayarakat. Di bawah pimpinan beliau nampak jelas sinar Iman dan Islam di desa Sibungke Kecamatan Simpang Kiri Kabupaten Aceh Selatan waktu itu dan sekarang menjadi kampong Sibungke Kecamtan Runding Kota Subulussalam Provinsi Aceh terbukti di bawah asuhan beliau banyak santri yang mondok dari luar daerah untuk menimba ilmu agama di pesantren tersebut. Namun seiring perputaran jaman ibarat kata orang “ Bak Air Pasang Surut” setelah lama berkifrah di desa Sibungke beliau akhirnya hijrah ke desa Tangga Besi Kecamatan Simpang Kiri mendirikan Ponpes Mardhatillah dan di awal tahun 1997 beliau berkhidmat di Ponpes Darul Muta’allimin Tanah Merah sampai akhir hayat beliau pada tahun 2015 silam. Selanjutnya kepemimpinan Ponpes Raudhatul Muttaqin diisi oleh alumni-alumni dari Raudhatul Muttaqin sendiri yang melanjutkan studinya ke Darul Muta’allimin Tanah Merah dan juga sebahagian kecil dari alumni Pondok lain. Tgk. Anshari asal desa Sibungke pada 1996, seterusnya Pesantren ini dilanjutkan oleh Tgk. Yusuf tahun 1997 yang berasal dari alumnus Ponpes Darul Hasanah Singkil, kemudian Tgk. Amiruddin Pinem, S.Pd.I pada tahun 1997 sd 1999. Kemudian dilanjutkan oleh Tgk. Sabtunis 1999, dan di tahun 2000-2001 diasuh oleh Tgk. M. Ilyas Brutu. Dari tahun 2001 sampai 2003 Pesantren ini dipimpin oleh Tgk. Abdul Aziz yang berasal dari Sibungke Alumnus PP Raudhatul Muttaqin Sibungke dan PP Darul Mutaallimin Tanah Merah. Kejadian konflik RI-GAM membuat desa Sibungke dan tetangganya desa Panglima Sahman (yang sebelumnya sudah mekar dari desa induknya Sibungke pada tahun 1999), porak poranda dan mengungsi ke Ibu Kota Kecamatan Runding di Tahun 2003-2005. Al Hamdulillah Desa Sibungke dan Panglima Sahman kembali ke desanya masing-masing pada tahun 2005. Rentang waktu pengungsian Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Pondok Pesantren (PP) Raudhatul Muttaqin terhenti total. Setelah masyarakat kembali ke desa maka lambat laun PP Raudhatul Muttaqin diaktifkan dengan kondisi bangunan yang sudah memperihatinkan. Tahun 2006 sampai 2013 Tgk. Abdul Aziz dan dibantu oleh beberapa Ustazah melanjutkan tradisi belajar di pesantren tetapi tidak menerapkan sistem mondok bagi santri-santrinya. Para tenaga didik perempuan yang memiliki jasa melastarikan kegiatan belajar di pesantren antara lain adalah; Ustzah Rosnah alumni Darul Muta’allimin, Ustazah Siti Ambun, Ustazah Syarifah dan Ustazah Nurhayati ketiganya adalah alumni PP Raudhatul Muttaqin dan Darul Muta’allimin asli putri Sibungke. Pada tahun 2013 sampai sekarang (2022) masyarakat Sibungke dan Panglima Sahman telah dipindahkan oleh Pemerintah Pemko Subulussalam ke tempat yang baru sekitar 400 meter dari desa Sibungke lama meninggalkan Daerah Aliran Sungai (DAS) temapt dimana pesantren ini berada. Oleh karenanya kegiatan di PP Raudhatul Muttaqin nyaris berhenti total dan sudah ditinggalkan dan dipindahkan di tempat yang baru. Alhamdulillah Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidiakn Dayah tetap mengakui legalitas Dayah Raudhatul Muttaqin sampai hari ini dengan dikirimnya satu orang Guru Dayah, beliau adalah Tgk. Kaharuddin, SP. Tetapi sebagai tempat Persulukan yang dirintis oleh Abuya Tanah Merah dari jaman dahulu terus diaktifkan di pesantren ini dengan prekuansi 10 hari dalam setahun sampai sekarang di tahun 2022. Pada tahun 2022 ini terjadi perombakan total Pesantren Raudhatul Muttaqin. Dengan keinginan dan keperihatinan yang besar dari masyarakat Sibungke dan Panglima Sahman atas keberlangsungan Pesantren tertua di Ace Singkil dan Pemko Subulussalam ini maka masyarakat meminta salah seorang alumni PP Raudhatul Muttaqin dan PP Darul Muta’allimin putra asli Sibungke yang sedang aktif sebagai Tenaga Pendidik di Dayah Darul Muta’allimin Aceh Singkil untuk mengurus kembali pesantren yang masih memiliki komplit bangunannya ini dijadikan pesantren yang kompetitif dengan pesantren lain di Aceh dan Indonesia pada umumnya. Dengan berkat Rahmat Allah hari Senin, 18 Juli 2022 bertepatan dengan 18 Zul Hijjah 1443 pesantren lokasi lama kembali diaktifkan dengan nama dan struktur yayasan serta kepesantrenannya yang baru dan sedidkit revisi dengan nama Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah disingkat PPRM di bawah Yayasan Pendidikan Muslimin Raudhah Khalidiyyah. Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah mulai aktif santri mondok pada Jum’at, 11 Zul Hijjah 1444 H bertepatan dengan 30 Juni 2023, Beralamat Jl. Panglima Sahman No. 23 Kampong Sibungke Kecamatan Rundeng Pemko Subulussalam Propinsi Aceh, bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Muslimin Raudhah Khalidiyyah dengan Pembina Tgk. Abdullah Barus, S.Pd.I., M.Ag dan Ketua Umum Yayasan Tgk. Umma Abidin Lingga, S.Pd.I., M.Pd.I Berdasarkan akte notaris dengan nomor: 107 Tanggal 30 September 2022 dan telah disahkan oleh Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan nomor : AHU-0020711.AH.01.04. Tahun 2022. Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah di bawah Yayasan Pendidikan Muslimin Raudhah Khalidiyyah adalah melanjutkan pendidikan yang telah dirintis oleh para Ulama Alumni-alumni Pesantren Darussalam Labuhan Haji Asuhan Syekh Muhammad Wali Al-Khalidy sejak tahun 1950. Kemudian Tahun 1980 Pesantren ini diasuh oleh Ulama para Alumni Pesantren Darul Muta’allimin Tanah Merah di bawah Asuhan Syekh Bahauddin Tawar. Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah mulai beroperasi kembali dengan Yayasan yang baru pada Tahun 2023 dengan jenis kurikulum pendidikan sebagai program unggulan adalah penguasaan Al-Qur’an Hadis, Kitab Turast/Kuning dan keterampilan amal shalih di tengah-tengah masyarakat.
A. Satuan Pendidikan
Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah menaungi beberapa lembaga pendidikan di bawah Yayasan Pendidikan Muslimin Raudhah Khalidiyyah, diantaranya yaitu:
1. Balai Pengajian Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah
2. SMP IT Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah
3. SMA Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah (Proses Izin)
A. Kurikulum Pondok Pesantren
Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah merupakan lembaga pendidikan Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan tradisional ala pesantren salaf. Dalam kegiatan pendidikannya, pesantren ini menganut sistem kurikulum kitab kuning sebagai inti dari proses pembelajaran.
1. Kurikulum Berbasis Kitab Kuning
Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah mengembangkan pendidikan berbasis kitab kuning, yaitu kitab-kitab klasik berbahasa Arab gundul yang menjadi rujukan utama dalam tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya madzhab Syafi’i.
Kurikulum ini difokuskan pada pendalaman ilmu-ilmu agama seperti:
Ilmu Fikih: Taqrib, Fathul Qarib, Fathul Mu’in
Tauhid dan Akidah: Aqidatul Awam, Syarah Jauharah at-Tauhid
Tata Bahasa Arab (Nahwu-Sharaf): Jurumiyah, Imrithi, Alfiyah Ibnu Malik
Tasawuf dan Akhlak: Ta’limul Muta’allim, Ihya’ Ulumuddin
Tafsir dan Hadis: Tafsir Jalalain, Arbain Nawawi
Ushul Fiqh dan Mantiq: Waraqat, Sullam al-Munawraq
2. Metode Pengajaran Tradisional
Untuk mendalami kitab kuning, pesantren ini menerapkan metode-metode klasik yang terbukti efektif sejak ratusan tahun:
Bandongan: Kyai membaca kitab dan menjelaskan, santri menyimak dan mencatat makna.
Sorogan: Santri membaca langsung di hadapan kyai/ustadz dan dikoreksi secara personal.
Musyawarah: Diskusi antar-santri untuk memperdalam pemahaman isi kitab.
Mudzakarah dan Halaqah: Pengulangan materi dan pengajian kelompok untuk memperkuat hafalan dan pemahaman.
3. Orientasi Pendidikan
Pesantren Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah tidak hanya fokus pada transfer ilmu, tapi juga pembentukan karakter dan spiritualitas santri. Nilai-nilai seperti keikhlasan, kesabaran, adab terhadap guru dan ilmu, serta kemandirian santri menjadi fondasi utama dalam pembinaan sehari-hari.
4. Keseimbangan Tradisi dan Kemajuan
Meski berpegang pada sistem salaf, pesantren ini tidak menutup diri terhadap pengembangan zaman. Dalam beberapa bagian, juga dilakukan penguatan keterampilan baca kitab, diskusi ilmiah, dan latihan menulis karya ilmiah berbasis kitab klasik.
B. Takhassus dan Keunggulan Pesantren
Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah merupakan salah satu pesantren yang secara konsisten menjaga tradisi keilmuan Islam klasik melalui pengajaran kitab kuning. Dalam arus perkembangan zaman dan modernisasi pendidikan, pesantren ini tetap kukuh mempertahankan sistem pendidikan salaf yang telah terbukti melahirkan generasi ulama, cendekiawan, dan tokoh umat yang berpengaruh.
1. Kitab Kuning: Identitas dan Keunggulan
Kitab kuning adalah kitab-kitab berbahasa Arab gundul (tanpa harakat) yang merupakan karya para ulama klasik dari berbagai disiplin ilmu Islam seperti fikih, tafsir, hadis, akidah, tasawuf, dan lainnya. Di Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah, kitab kuning tidak hanya dijadikan bahan ajar, tetapi menjadi ikon keunggulan dan identitas utama pesantren. Melalui kitab kuning, para santri dibimbing untuk menggali langsung ajaran Islam dari sumber-sumber otoritatif. Mereka tidak hanya belajar memahami isi kitab, tapi juga dilatih untuk berpikir mendalam, kritis, dan kontekstual. Kegiatan ini dilakukan secara intensif melalui metode khas pesantren seperti bandongan, sorogan, halaqah, musyawarah, dan mudzakarah.
2. Penjaga Tradisi, Pembangun Peradaban
Dengan menjadikan kitab kuning sebagai tulang punggung pendidikan, Pondok Pesantren Raudhatul Muttaqin Al Bahauddiniyyah berperan sebagai penjaga warisan intelektual Islam klasik sekaligus agen pembangun peradaban Islam masa depan. Pesantren ini tidak hanya mencetak santri yang pandai membaca kitab, tapi juga siap menjadi pembimbing umat, guru, dai, dan ulama yang tangguh dalam keilmuan dan akhlak.